JAKARTA — Pengembangan kratom menjadi bagian dari industri berbasis riset dibahas oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), dan PT Indofarma pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menyoroti pemanfaatan teknologi ekstraksi dan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah kratom, sekaligus menegaskan pentingnya penelitian lanjutan dan pemenuhan ketentuan regulasi.
Pembahasan ini menjadi salah satu contoh arah hilirisasi riset kratom, yakni upaya menghubungkan hasil kajian perguruan tinggi dengan kebutuhan pengembangan teknologi dan industri. Namun, prosesnya masih berada dalam tahap pengembangan. Kratom belum dapat dinyatakan sebagai obat atau produk komersial berdasarkan informasi yang tersedia dalam pembahasan tersebut.
Teknologi ekstraksi dan pemurnian menjadi perhatian
Salah satu fokus pertemuan adalah pengembangan teknologi untuk mengekstraksi dan memurnikan senyawa yang terdapat dalam kratom. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu menghasilkan bahan dengan karakteristik yang lebih terukur sehingga memiliki peluang untuk dikaji lebih lanjut dalam industri berbasis riset.
Pembahasan juga mencakup pemurnian mitraginin dengan konsentrasi di atas 98 persen. Tingkat konsentrasi ini disebut dalam konteks pengembangan proses pemurnian, bukan sebagai penanda bahwa suatu produk kesehatan telah selesai dikembangkan atau memenuhi persyaratan untuk digunakan secara luas.
Pemanfaatan teknologi ekstraksi dan pemurnian membutuhkan penguasaan proses, pengujian berulang, serta evaluasi terhadap mutu dan keamanan bahan. Karena itu, capaian teknis dalam satu tahap belum secara otomatis berarti bahwa kratom siap digunakan sebagai bahan obat maupun produk kesehatan.
Kolaborasi lintas sektor diperlukan
Kemdiktisaintek menekankan perlunya kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, serta kementerian dan lembaga terkait. Kerja sama tersebut diperlukan karena pengembangan bahan alam tidak hanya berkaitan dengan penemuan atau pengolahan senyawa, tetapi juga menyangkut kesiapan teknologi, pengawasan kesehatan, standar mutu, dan kepatuhan terhadap regulasi.
Dalam konteks ini, perguruan tinggi berperan menyediakan dasar pengetahuan dan hasil penelitian. Lembaga penelitian dapat mendukung pengujian serta pengembangan metode, sementara industri berperan dalam melihat kesiapan proses dan kebutuhan penerapan. Kementerian serta lembaga terkait dibutuhkan untuk memastikan proses pengembangan berjalan sesuai kebijakan dan ketentuan yang berlaku.
Kolaborasi tersebut juga dapat membantu memperjelas tahapan pengembangan, mulai dari penelitian bahan, pengujian aktivitas, peningkatan skala teknologi, hingga penilaian terhadap aspek keamanan dan regulasi. Setiap tahap memerlukan bukti ilmiah dan pengawasan yang memadai agar pemanfaatan bahan alam tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Peran ITERA dalam kajian bahan alam
ITERA menyebutkan bahwa riset yang dilakukan mencakup kajian bahan alam dan aktivitas farmakologi. Kajian tersebut menjadi salah satu dasar untuk mengembangkan kandidat obat berbasis bahan alam. Istilah kandidat obat menunjukkan bahwa suatu bahan masih berada dalam proses penelitian dan belum dapat disamakan dengan obat yang telah memperoleh persetujuan penggunaan.
Penelitian aktivitas farmakologi dapat membantu memahami bagaimana suatu senyawa berinteraksi dan berpotensi memberikan efek tertentu. Meski demikian, hasil kajian awal tetap perlu dilanjutkan melalui rangkaian penelitian dan evaluasi yang sesuai. Aspek keamanan, dosis, mutu bahan, serta kemungkinan efek yang tidak diinginkan perlu menjadi bagian dari proses pengembangan.
Bagi lingkungan akademik, keterlibatan ITERA dalam pembahasan ini memperlihatkan fungsi perguruan tinggi sebagai penghubung antara pengetahuan, kebutuhan teknologi, dan tantangan industri. Peran tersebut tidak berhenti pada publikasi hasil penelitian, tetapi juga mencakup penguatan metode, pengujian, dan kerja sama agar hasil riset dapat dinilai kelayakannya secara bertanggung jawab.
Pengembangan masih membutuhkan tahapan lanjutan
Pengembangan kratom menjadi bahan bernilai tambah masih memerlukan sejumlah tahapan. Penelitian lanjutan dibutuhkan untuk memperkuat pemahaman mengenai komposisi bahan, proses ekstraksi, metode pemurnian, serta karakteristik senyawa yang dihasilkan. Kesiapan teknologi juga perlu dinilai agar proses yang dikembangkan dapat berlangsung secara konsisten dan memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Selain aspek teknis, pemenuhan regulasi menjadi bagian penting dalam pengembangan. Setiap rencana pemanfaatan untuk keperluan kesehatan harus memperhatikan ketentuan yang berlaku, termasuk persyaratan mutu, keamanan, pengawasan, dan evaluasi berbasis bukti. Koordinasi lintas sektor diperlukan agar pengembangan tidak berjalan secara terpisah antara peneliti, industri, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya.
Pengawasan aspek kesehatan juga menjadi perhatian karena bahan alam dapat memiliki kandungan aktif dan efek biologis yang perlu dipahami secara ilmiah. Oleh sebab itu, potensi ekonomi kratom perlu ditempatkan bersama prinsip kehati-hatian, transparansi penelitian, dan perlindungan masyarakat.
Relevansi hilirisasi bagi perguruan tinggi
Pembahasan antara Kemdiktisaintek, ITERA, dan PT Indofarma menunjukkan bahwa hilirisasi riset memerlukan ekosistem yang saling terhubung. Perguruan tinggi dapat menghasilkan kajian dasar dan terapan, sedangkan industri membantu mengidentifikasi kebutuhan proses serta peluang pengembangan. Pemerintah dan regulator memastikan agar setiap tahapan mengikuti kerangka kebijakan dan ketentuan kesehatan.
Model kolaborasi seperti ini penting bagi pengembangan bahan alam di Indonesia. Riset tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan temuan, tetapi juga untuk menjawab persoalan penerapan, pengendalian mutu, dan keberlanjutan proses. Pada saat yang sama, dorongan menuju hilirisasi tidak boleh menghilangkan kebutuhan untuk melakukan verifikasi ilmiah secara bertahap.
Dengan demikian, pertemuan pada 13 Oktober 2026 di Jakarta menegaskan arah kerja sama dalam pengembangan kratom, terutama melalui teknologi ekstraksi dan pemurnian. Rencana tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan, kesiapan teknologi, pemenuhan regulasi, pengawasan aspek kesehatan, dan koordinasi lintas sektor sebelum dapat memasuki tahap pemanfaatan yang lebih luas.