Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
Pendidikan Tinggi Islam • Tasikmalaya
Beranda / Berita / Berita Kampus
Berita Kampus

Indonesia-Iran Jajaki Pertukaran Akademisi dan Riset Teknologi

STIT Az Zahra Tasikmalaya

Indonesia dan Iran menjajaki kerja sama pendidikan tinggi, sains, dan teknologi melalui pembahasan pertukaran akademisi, mobilitas mahasiswa pascasarjana, pengembangan Science Techno Park, serta kolaborasi riset. Pertemuan yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026, menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan akademik dan teknologi yang lebih konkret antara kedua negara.

Pembahasan tersebut mempertemukan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia dengan perwakilan pemerintah Iran serta Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia. Pertemuan melibatkan Mendiktisaintek Brian Yuliarto, Deputy for Policy and Development pada Vice Presidency for Science, Technology and the Knowledge-Based Economy Iran Esfandiar Ekhtiyari Kasnavieh Yazd, dan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.

Hingga tahap ini, kerja sama pendidikan tinggi Indonesia-Iran masih berada dalam fase penjajakan. Belum ada keterangan bahwa program pertukaran atau proyek riset tersebut telah berjalan secara operasional. Kedua pihak akan melanjutkan pembahasan teknis dan menyiapkan penyusunan nota kesepahaman sebagai dasar untuk menentukan bentuk kemitraan berikutnya.

Agenda pertukaran profesor dan mobilitas mahasiswa

Salah satu pokok pembahasan adalah peluang pertukaran profesor antara perguruan tinggi dan lembaga akademik di Indonesia dan Iran. Pertukaran ini dapat menjadi bagian dari upaya memperluas interaksi keilmuan, berbagi pengalaman akademik, serta membuka ruang untuk pengembangan riset bersama.

Selain profesor, kedua pihak membicarakan mobilitas mahasiswa pascasarjana. Pembahasan tersebut menempatkan mahasiswa pada jenjang pendidikan lanjutan sebagai salah satu unsur penting dalam rencana kemitraan. Mobilitas mahasiswa dapat berkaitan dengan kegiatan akademik dan riset, tetapi bentuk, mekanisme, serta pelaksanaannya masih perlu dirumuskan melalui pembicaraan teknis.

Rencana pertukaran akademisi dan mobilitas mahasiswa belum dapat dipahami sebagai program yang sudah memiliki jadwal, kuota, atau mekanisme pendaftaran. Detail tersebut masih menunggu proses lanjutan dan kemungkinan dituangkan dalam nota kesepahaman maupun pengaturan teknis setelahnya.

Science Techno Park sebagai ekosistem pemanfaatan riset

Pengembangan Science Techno Park juga menjadi bagian penting dalam pertemuan Indonesia dan Iran. Science Techno Park dipahami sebagai ekosistem yang menghubungkan kegiatan riset dengan pemanfaatan hasil penelitian, termasuk pengembangan inovasi dan usaha rintisan berbasis teknologi.

Pemerintah Iran menyatakan kesiapan untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan Science Techno Park. Pertukaran pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kedua pihak dalam membangun ekosistem yang mendukung hubungan antara perguruan tinggi, peneliti, pengembang teknologi, dan sektor usaha.

Namun, pembahasan mengenai Science Techno Park masih berupa penjajakan kerja sama. Belum terdapat informasi mengenai lokasi, institusi pelaksana, model pengelolaan, maupun proyek tertentu yang telah ditetapkan. Karena itu, tindak lanjut teknis diperlukan untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi bentuk kolaborasi yang dapat dilaksanakan.

Fokus riset pada energi dan dirgantara

Ruang lingkup kolaborasi yang dibahas mencakup riset dan hilirisasi di bidang energi serta dirgantara. Riset menjadi dasar untuk menghasilkan pengetahuan dan teknologi, sedangkan hilirisasi berkaitan dengan proses membawa hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Kedua bidang tersebut disebut dalam konteks pengembangan usaha rintisan berbasis teknologi. Artinya, penjajakan tidak hanya mencakup kerja sama akademik dalam bentuk pertukaran pengetahuan, tetapi juga kemungkinan penguatan hubungan antara penelitian, inovasi, dan pengembangan produk atau layanan teknologi.

Meski demikian, belum ada rincian mengenai jenis teknologi, lembaga riset, perusahaan rintisan, maupun proyek energi dan dirgantara yang akan terlibat. Informasi mengenai sasaran riset, pendanaan, pembagian peran, dan jadwal pelaksanaan masih menjadi bagian dari pembahasan lanjutan.

Tahap berikutnya menuju nota kesepahaman

Hasil pertemuan di Jakarta akan ditindaklanjuti melalui pembicaraan teknis dan penyusunan nota kesepahaman. Tahap ini penting untuk memperjelas cakupan kerja sama, pihak-pihak yang terlibat, bentuk kegiatan, serta mekanisme evaluasi apabila kemitraan disepakati.

Nota kesepahaman nantinya dapat menjadi kerangka awal bagi pengembangan program yang lebih terarah. Namun, keberadaan nota kesepahaman tidak dengan sendirinya berarti seluruh program telah berjalan. Pelaksanaan pertukaran akademisi, mobilitas mahasiswa, riset bersama, atau pengembangan Science Techno Park tetap memerlukan pengaturan lanjutan dan kesepakatan teknis dari institusi terkait.

Bagi perguruan tinggi di Indonesia, penjajakan ini membuka kemungkinan penguatan jejaring internasional di bidang pendidikan tinggi, sains, dan teknologi. Peluang tersebut masih harus diikuti dengan pemetaan kebutuhan, kesiapan institusi, serta penentuan mitra yang sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Dengan demikian, pertemuan Indonesia dan Iran pada 23 Oktober 2026 terutama menandai dimulainya proses pembicaraan menuju kemitraan akademik dan riset. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil pembahasan teknis dan kesepakatan resmi yang disusun oleh kedua pihak.