KONASPI XII 2026 resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, pada Jumat, 2 Oktober 2026. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia tersebut mendorong perguruan tinggi memperkuat lulusan bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri serta pembangunan nasional.
Kegiatan yang diselenggarakan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) ini berlangsung pada 2–4 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan akademisi, pimpinan perguruan tinggi, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), serta pemangku kepentingan pendidikan untuk membahas arah transformasi pendidikan Indonesia.
KONASPI XII 2026 mengusung tema “Transformasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045: Inovasi, Kolaborasi, dan Pendidikan Berkelanjutan”. Tema itu menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai penyelenggara pembelajaran, tetapi juga sebagai penghasil lulusan, pengetahuan, dan inovasi yang memberi dampak bagi masyarakat serta dunia kerja.
Perguruan Tinggi Didorong Memperkuat Bidang STEM
Dalam pembukaan konvensi, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendorong perguruan tinggi memperbanyak lulusan dari bidang STEM. Penguatan bidang tersebut dikaitkan dengan kebutuhan industri dan agenda pembangunan nasional yang memerlukan tenaga kerja dengan kompetensi sains dan teknologi.
Berdasarkan laporan yang disampaikan ANTARA, mahasiswa dari bidang teknik, kesehatan, pertanian, serta matematika dan ilmu pengetahuan alam masih berada di kisaran 28 persen dari keseluruhan mahasiswa. Data tersebut menjadi salah satu konteks pembahasan mengenai pentingnya memperluas minat dan kapasitas pendidikan pada bidang-bidang yang memiliki keterkaitan kuat dengan kebutuhan pembangunan.
Dorongan terhadap STEM tidak hanya berkaitan dengan penambahan jumlah program studi atau mahasiswa. Perguruan tinggi juga perlu memastikan proses pembelajaran menghasilkan kompetensi yang dapat digunakan dalam situasi kerja nyata. Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki dasar keilmuan yang kuat sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan sektor industri.
Outcome Lulusan Menjadi Ukuran Penting
Dalam forum tersebut, keberhasilan perguruan tinggi ditekankan untuk tidak hanya diukur dari proses internal, seperti jumlah mahasiswa atau kegiatan akademik. Outcome lulusan, pemanfaatan hasil riset oleh industri dan masyarakat, serta dampak nyata bagi pembangunan menjadi bagian penting dalam menilai kinerja pendidikan tinggi.
Penekanan pada outcome membuat relevansi lulusan dengan dunia kerja menjadi perhatian utama. Perguruan tinggi perlu melihat apakah pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa dapat mendukung perjalanan mereka setelah menyelesaikan studi. Evaluasi tersebut juga berkaitan dengan kemampuan institusi membaca perubahan kebutuhan profesi dan menyesuaikan pembelajaran secara berkelanjutan.
Bagi program studi, arah ini dapat menjadi dasar untuk memperkuat hubungan antara kurikulum, pengalaman belajar, penelitian, dan persoalan yang dihadapi industri maupun masyarakat. Keterhubungan tersebut perlu dibangun melalui kolaborasi, bukan hanya pada saat mahasiswa mendekati kelulusan.
Kolaborasi dan Kompetensi Digital Dibahas
Sejumlah laporan perguruan tinggi peserta menyebutkan bahwa KONASPI XII membahas berbagai isu yang berkaitan dengan transformasi pendidikan. Topik yang dibicarakan mencakup penguatan hard science, inovasi, kolaborasi, coding, kecerdasan artifisial, bahasa Inggris, dan relevansi lulusan dengan dunia kerja.
Penguasaan coding dan kecerdasan artifisial menjadi bagian dari percakapan tentang kompetensi masa depan. Namun, pembahasan tersebut ditempatkan bersama penguatan fondasi keilmuan, kemampuan berkolaborasi, serta kecakapan berkomunikasi. Kombinasi itu penting karena kebutuhan dunia kerja tidak hanya menuntut kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pemahaman masalah dan kemampuan menerapkan pengetahuan secara tepat.
Bahasa Inggris juga termasuk kompetensi yang dibahas dalam konteks kesiapan lulusan. Kemampuan tersebut dapat mendukung akses mahasiswa dan lulusan terhadap pengetahuan, jejaring, serta perkembangan keilmuan yang lebih luas. Sementara itu, kolaborasi membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk bekerja bersama industri, pemerintah, dan masyarakat dalam merancang solusi yang relevan.
Relevansi bagi Kampus dan Mahasiswa
Pesan dari KONASPI XII 2026 relevan bagi kampus karena menghubungkan kebijakan pendidikan tinggi dengan kesiapan program studi, mahasiswa, riset, dan kompetensi kerja. Perguruan tinggi perlu menerjemahkan arah tersebut ke dalam langkah yang sesuai dengan karakter masing-masing institusi dan bidang keilmuan.
Bagi mahasiswa, penguatan STEM dan keterhubungan dengan industri menunjukkan pentingnya membangun kompetensi sejak masa studi. Penguasaan materi akademik perlu berjalan bersama kemampuan memecahkan masalah, menggunakan teknologi, berkomunikasi, dan bekerja dalam tim. Kompetensi tersebut dapat menjadi bekal ketika lulusan memasuki lingkungan kerja yang terus berubah.
Bagi dosen dan pengelola program studi, forum ini mempertegas pentingnya pembelajaran yang terhubung dengan perkembangan ilmu serta persoalan nyata. Riset juga diharapkan tidak berhenti pada keluaran akademik, tetapi dapat dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat ketika memiliki relevansi serta dukungan kolaborasi yang memadai.
Arah Transformasi Pendidikan Menuju 2045
Melalui tema transformasi pendidikan menuju Indonesia Emas 2045, KONASPI XII 2026 menempatkan inovasi, kolaborasi, dan pendidikan berkelanjutan sebagai bagian yang saling berkaitan. Perguruan tinggi diharapkan mampu menjaga kualitas fondasi keilmuan sekaligus merespons perubahan teknologi dan kebutuhan pembangunan.
Penguatan lulusan STEM menjadi salah satu agenda dalam arah tersebut. Meski demikian, keterhubungan dengan industri juga memerlukan perhatian pada mutu pembelajaran, pemanfaatan riset, kemampuan digital, bahasa, dan kompetensi kolaboratif. Dengan pendekatan itu, relevansi lulusan dapat dibangun secara lebih menyeluruh.
KONASPI XII 2026 di Bali menjadi ruang untuk membahas tantangan dan peluang pendidikan tinggi melalui pertemuan berbagai pemangku kepentingan. Hasil pembahasannya diharapkan memperkuat upaya perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, mendukung inovasi, serta memberi dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.